
Marhalah Pertama
Suatu ketika muncul pertanyaan dari seseorang yang belum memahami Islam dan kewajiban-kewajiban seorang muslim atau muslimah :”Kenapa sih kamu pakai jilbab ?” .
Pertama, alasan yang sederhana adalah bahwa saya memakai jilbab “bukan untuk sok-sokan “1.Juga “bukan untuk gaya-gayaan”2. ”Bukan juga karena latah ikut-ikutan“3. Atau “tidak bermaksud agar hanya sekedar berbeda dengan yang lain“4. Sekali-kali tidak. Secara pandangan kaca mata aqidah Islamiyah dapat saya kemukakan tujuan saya memakai jilbab adalah “Karena saya ingin taat pada Allah, yang telah menciptakan saya, menyempurnakan kejadian, member rezeki, melindungi dan menolong saya“5. Bukankah ketaatan kepada-Nya adalah “tanda kita bersyukur atas nikmat-Nya yang banyak?”6. Baik nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan serta berjuta nikmat yang telah Allah berikan.
Selanjutnya, “karena saya ingin taat pada Rasul-Nya, pembimbing ummat dengan risalah beliau“7. Beliaulah yang menyerukan “agar kaum wanita menutup auratnya“8. Dengan syi’ar Islam, beliau SAW telah “meninggikan derajat wanita dari belenggu kehinaan dan hanya menjadi obyek nafsu semata“9. Dan mengarahkan wanita “agar wanita menjadi subyek dalam proses pembangunan ummat“10.
Apalagi dalam sebuah keluarga, “sungguh dapat saja aterjadi bahwa pahala wanita yang bekerja di rumah justru lebih besar dari pahala suaminya yang bekerja di luar rumah. Sebab ia lebih ikhlas“11. Dalam pandangan lain, seperti orientalis Barat sering melontarkan, bahwa jilbab itu adalah pakaian wanita yang inferior (rendah diri), sebab minder bergaul dengan orang-orang modern. Terus terang saya katakan bahwa pandangan itu adalah keliru besar! Pandangan penyerang-penyerang Islam yang lagi panik melihat hasil kerjanya sia-sia tanpa makna. Pandangan yang berdasar sama sekali. “Jilbab adalah pakaian Taqwa“12, dan “saya tengah berusaha mencapai derajat taqwa“13. Dengan ini saya, “tidak jadi minder“14. Justru “ada semacam izzah (kemuliaan) diri“15. Juga mersa meninggikan “izzah Islam“16. Sekaligus untuk “syi’ar Islam”17. “Saya ingin menjadi mar’ah sholehah, sebagaimana kriteria Allah dan Rasul-Nya“18.
Marhalah Kedua
Sebuah pendapat bernada sumbangan berkomentar tentang menjamurnya wanita berjilbab saat ini. “Ah, itu kan orang-orang yang sedang mencari identitas. Biasa …. lagi trendy, seperti music yang lagi ngetop, sebentar juga nggak laku lagi“.
Perlu saya jelaskan bahwa bagi makhluk Allah yang taat pada-Nya, identitasnya telah digariskan dengan tegas oleh sang Khaliq. ”Jilbab adalah identitas wanita muslimah“19 yang telah digariskan oleh Allah baik melalui firma-firman Allah, maupun hadits-hadits Rasul-Nya. Juga pemakainya “Berniat untuk ibadah“20 kepada Allah. “Bukan sekedar untuk nge-trend”21. “Bukan mode seperti musik yang dipermisalkan tadi“22. “Inilah pakaian yang cocok dengan fitrah wanita“23. Sebab semua aturan yang diturunkan Allah kepada makhluk-Nya adalah fitah atau sesuai dengan kebutuhannya. “Jadi, Jilbab co…cok untuk semua wanita“24. Meskipun dia bukan seorang muslimah!!! Kalian yang bukan muslimah dapat merenungkan hal ini.
Apalagi dengan berjilbab, kita “Akan memperoleh ridho Allah“25. Sebagaimana jaminan Allah memperoleh syurga atas Assabiquunal awwalun ( muhajirin/at dan Anshor ). “lihatlah istri-istri Rasulullah”26. “Para sahabiah semua berbusana muslimah“27. Bukankah mereka yang dekat dengan Rasul. Bukankah “mereka adalah generasi yang layak untuk diteladani“28. “Agar kita juga mendapat balasan jannah sebagaimana mereka telah mendapatkannya“29. Mereka ( muhajirat ), ketika turun ayat tentang hijab, mereka merobek-robek kain panjang mereka untuk digunakan sebagai penutup tubuh mereka. Kemudian di antara mereka bertanya kepada Rasul, “Apakah ini masih kurang panjang ya Rusulullah?” Pantas Allah memberikan jaminan syurga atas mereka.
Terus terang ( kata sang penulis ), “bermula dengan jilbab ini saya ingin menapak jalan ke syurga “ 30.
Agar lebuh jelas, Bukalah Al-Qur’an dan lihat surat An-Nur ayat 31 :
“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman :” Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakan perhiasannya, kecuali….”31.
Kemudian surat Al-Ahzab ayat 59 :
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka….” 32.
Bukankah ayat-ayat itu begitu jelas dan tegas, Sungguh wanita-wanita yang bersih hatinya, akan mengakui secara terus terang bahwa “jilbab itu adalah merupakan perintah dari Allah, Rabb seluruh alam ini“33.
Atau kita simak hadits-hadits Rasulullah SAW berikut :
“Hai Asma, sesungguhnya anak wanita itu kalau sudah sampai dating bulan, tidak pantas terlihat tubuhnya, kecuali ini dan nin. Beliau berkata demikian sambil menunjuk kepada muka dan telapak tangan.”34.
Jadi, jelas sekali bahwa yang berhak memandang aurat wanita adalah “ sebatas muhrim saja“35.
Marhalah Ketiga
Ada lagi bentuk pertanyaan disebabkan ketidak-tahuannya terhadap aturan Islam, apakah hukum jilbab itu sesuatu yang bersifat khilafiah (masih ada perbedaan pendapat)?
Masalah “hukum jilbab bukanlah sesuatu yang bersifat khilafiah”36. “Seluruh ulama sepakat bahwa hukum mengenakan jilbab itu wajib“37. Sebab keterangannya begitu jelas di Al-Qur’an dan Sunnah.Sekali diingatkan bahwa yang dimaksud ulama tersebut adalah ulama-ulama yang masih dekat kepada Rasulullah, seperti para sahabat dan tabiin misalnya. Bukan seorang tukang pidato lantas disebut ulama, seperti yang dipahami sebagian orang dewasa ini.
Marhalah Keempat
Secuil mulut usil menyentil dari pinggir jalan, “Kuno amat sih, di zaman modern masih pakai kerudung segal!”. Untuk menjawab soal ini terlebih dahulu perlu ditekankan bahwa “ajaran Islam tidak ada yang kuno untuk dijalankan, sebab dia berlaku sepanjang zaman!”38. Jadi, hukum-hukumnya dirancang oleh Allah tidak hanya untuk sementara waktu saja, sebagaimana hukum-hukum yang dibuat manusia kerap kali tidak up to date lagi. “Kalau kita cap kuno, berarti sama dengan kita menggugat otoritas Allah tentang hal ini“39.
Satu kata lagi yaitu modern, yang sering diidentikkan dengan zaman kemajuan. Orang awam menganggap kemajuan ( modern ) adalah manakala manusi sudah berhasil menemukan teknolgi tinggi. Umpamanya keberhasilan manusia mendarat di bulan, teknologi satelit komunikasi, penemuan fiber optic, dsb.
Inilah bentuk dasar pemikiran yang senantiasa ditiup-iupkan oleh Barat kepada kita. Dan banyak pula yang terkena racun itu. Padahal kemajuan menurut Islam bukan hanya menggunakan satu parameter teknologi saja untuk mengukurnya. Justru konsep kemajuan menurut Islam ialah sejauh mana aturan dan hukum-hukum Islam diterapkan di muka bumi ini. “Semakin banyak yng berjilab, menandakan kemajuan penerapan aturan Islam semakin berkembang“40. “Semakin banyak yang berjilbab, merupakan salah satu barometer telah erbentuknya bi’ah ( lingkungan ) Islam”41.
Jadi maaf saya ralat ucapan tadi, agar kata-kata “ kuno” diatas diganti saja dengan kata “maju”.
Marhalah Kelima
Seorang teman mahasiswi yang ibunya seorang wanita karier sangat khawatir ketika saya mulai mengenakan jilbab. Sampai suatu saat ketika antara saya dan dia berlangsung dialog yang cukup serius.
Denagn nada cemas dia berkata, “Bagaimana nanti kalau kantor-kantor menolak mbak untuk bekerja? Jadi, ijazah yang mbak dapatkan dari unuversitas akan sia-sia?”
Pertanyaan ini masih sesuatu yang wajar, apalagi dilonatrkan oleh seorang gadis yang mashi muda ini. Sayapun dulu, terus terang, sebelum saya mengenal nilai Islam, juga berkeinginan muluk-muluk. Ketika lulus tes masuk Perguruan Tinggi, terbayanglah dibenak saya akan peluang jabatan di perkantoran yang dapat saya raih. Saya akan berdasi, stelan bahan jas. Rambut dengan make up salon, eye shadow, lipstick. Menyiapkan kertas kerja bahan unuk rapat dinas dan sebagainya. Sungguh saya gelid an malu bila mengingat hal itu saat ini.
“Namun, setelah saya kenal nilai Isalam dan mengamalkan jilba ini, soal karier itu bukanlah menjadi sesuatu yang penting bagi saya“42. “Saya tidak akan takut atau khawatir soal rezeki“43. “Solah rezeki Allah yang ngatur, tinggal kita istiqomah berjalan di atas kebenaran“44. “Sebab balasan yang akan diberikan Allah jauh lebih besar dari sekedar jabatan Top Manager seuah multi corporation saja, misalnya“45.
“Apa malah tidak menyempitkan lingkup pergaulan, sebab wanita-wanita lain akan canggung bergaul dengan mbak?”
Soal itu sih begantung kepada kedewasaan berpikir seseorang. “Kita harus belajar bagaimana menghormati prinsip-prinsip yang diyakini seseorang berdasarkan keimanannya“46. “Soal busana muslimah sungguh tidak ada paksaan“47. Yang siap mengenakannya lakukanlah dengan tulus dan ikhlas. Toh yang dipanggil Allah dalam Al-Qur’an untuk memakainya adalah “khusus kepada wanita-wanita yang beriman“48. Setiap orang bergaul masing-masing dengan kelompoknya. Mungkin atas dasar kesamaan hobby, kesamaan jurusan di Fakultas, kesamaan suku, kesamaan kampong, tetangga atau yang lebih mendasar lagi adalah aqidah.
Manusia kelak manusia masuk syurga berbondong-bondong. Masuk nerakapun berbondong-bondong. Terserah kepada kia akan berusaha mencapai bonding yang mana. “Nah, dari banyak nash yang tertulis, satu syarat agar termasuk bondongan ahlul jannah adalah menutup aurat., sesuai dengan aturan syar’i“49.
Dia masih terbengong-bengong. Dan tampaknya masih ingin melanjutkan pertanyaannya.
“Bagaimana sekiranya suami mbak nanti meminta mbak untuk buka jilbab ?”
Lha, wong namanya suami, kalau dia minta buka, saya sih oke-oke saja. “Selama dalam rumah itu tidak ada orang lain, yang terlarang meihat aurat saya“50.
“Maksud saya, dia minta mbak supaya tidak pakai jilbab lagi sekalipun berada di luar rumah ?”
Sebelum menikah saya akan minta suatu persyaratan “bahwa dia tidak akan meminta saya untuk mendurhakai Allah dan Rasul-Nya“51. “Termasuk dalam hal mengenakan jilbab ini“52.
“Apa mbak nggak canggung kalau di undang ke pesta perkawinan misalnya??
Kalau di undang ke pesta dansa ya canggung toh dik, “tapi kalau pestanya Islami nggak ada salahnya khan?”53. Tentunya bentuk acaranya ridak menjadikan sarana pesta tersebut sebagai ajang maksiat, umpamanya membaurkan tamu laki-laki dan tamu perempuan, semacam sarana ikhtilat. Menyediakan minuman keras, atau mengadakan acara yang membuat manusia terlena, lupa kepada Allah.
“Apakah pakaian seperti itu tidak menyebabkan gerak tubuh kita kurang lincah?”.
“Malah lebih lincah dik“54, inikan longgar, justru “jilbab itu maknanya pakaian lapang yang tidak menampakkan lekuk tubuh”55. “Rasanya lebih repot kalau wanita pakai kebaya”56, jalannya mesti pelan-pelan. Salah-salah bila kesandung, lantas jadi guling-gulingan.
“Apalagi kalo pakai blue jeans“57. Eh, ngomong-ngomong ada yang nulis di koran tuh, “Katanya blue jeans dapat menyebabkan kanker rahim, sebab suhu sekitar rahim tidak beraturan“58.
“Ada yang bilang kalau saya pakai jilbab nanti dikatain kayak ninja mbak?”, sambungnya lagi. “Kalau kamu dikatain kayak ninja, bilang BIAR. Biar satronin sekalian kamu nanti malam”59. Itu orang sok usil amat ya? “Terus kalau dibilang sok alim ah pakai jilbab segala?. ”Ya jawab, “BIARIN, daripada sok zholim!!”60.
“Kalau tante saya yang di Tebet itu bilang, kalau kamu pakai jilbab ntar nggak laku lho. Nanti jadi perawn tua”.
“Sekali lagi urusan jodoh adalah urusan Allah”61. Bukan urusan manusia. “Justru dengan semakin taatnya kita kepada Allah akan ditolong oleh Allah dan diberikan kemudahan-kemudahannya.”62. Jadi bukan lantaran jilbab, jodoh jadi sulit, eh situ tau nggak ya, “justru yang pakai jilbab kini lebih laris lho!!!” 63.
“Ngomong-ngomong apa sih kebaikan-kebaikan yang kita peroleh dengan jilbab ini mbak?”
Ooww…..banyak sekali!!! Keuntungannya berlipat ganda. Coba dengarkan baik-baik dik, ”Dengan berjlbab ini diri kita lebih terlindungi”64 dan “tidak menimbulkah fitnah”65. “Sehingga kita tidak sepanjang waktu melakukan maksiat kepada Allah”66. “Lelaki tidak akan jelalatan ke atas ke bawah ‘menyisiri yubuh kita”67. Maksud saya, “Agar tubuh kita tidak menjadi obyek cuci mata bagi kaum Adam itu”68. Ini sungguh terjadi dimana-mana, baik di pasar swalayan, di terminal, kala berada di dalam bus kota atau di wilayah yang kerap digunakan sebagai arena ‘mejeng’.
Di samping itu “kita tidak mudah diganggu laki-laki usil”69. Dengan berpakaian begini, justru “kita terlihat lebih anggun”70. Artinya kita menutup aurat dengan baik, “sehingga lelaki segan untuk ‘menjawil’ misalnya”71. Tapi kalau pakaian yang dikenakan jelas-jelas mini, justru mengundang lelaki untuk berbuat iseng.
Nah, dengan jilbab ini tentunya “tidak akan merangsang nafsu murahan para lelaki iseng itu”72. Selanjutnya, “agar kita berbeda dari orang yahudi, Kristen, musyrik dan jahilittun lainnya”73. Inilah perinah Rasulullah SAW agar kita “tidak meniru-niru orang-orang selain kita ( orang mu’min )”74.
Sebab menurut pesan Rasulullah”
“Barang siapa yang meniru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum itu”75.
Kalau kita bertasyabbuh ( meniru ), maka “hendaklah bertasyabbuh kepada ahlul haq”76. “Agar kita termasuk pula kepada golongan ahlul haq tersebut”77. Yaitu para muslimat yang istiqomah dalam kehidupan mereka. Para akhwat yang kokoh keimanannya, “karena tidak silau dengan kemegahan dunia serta perhiasannya”78.
“Jilbab juga merupakan pakaian atau hijab yang dapat mencegah terjadinya perzinahan”79. Sebab “menghadirkan zina mata dan zina hati”80. Padahal zina kemaluan itu selau “bermula dari zina mata dan zina hati”81. Dengan berjilbab, “maka bagian-bagian rubuh yang merangsang kaum lelakipun akan tertutupi”82. Ini merupakan aturan Islam yang preventif, dalam rangka menjaga agar tidak terjadi perzinahan. “Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?”83.
Pandanglah seorang wanita berjibab, “Dia begitu khusyu’ dan bersahaja”84. Sebab untuk beribadah kepada Allah kita tak perlu sombong atau angkuh kepada manusia yang lain. ”Jilbab menghapus sikap-sikap yang negative itu”85. “Jilba menghapus keinginan-keinginan jiwa yang menyimpang”86. Seperti keinginan riya’ dengan menonjolkan diri dihadapan manusia lain dengan bekal memamerkan sesuatu dari tubuhnya. Ingin dipuji oleh manusia. Ingin menarik perhatian dan merangsang nafsu laki-laki yang bukan haqnya. ”Padahal Allah mengharamkan seorang wanita untuk bertabarruj”87.
Belum lagi dengan dioleskannya beberapa bahan kosmetik kimia kewajah wanita yang lembut itu, “hingga mengendap dibawah permukaan kulitnya”88.
Selanjutnya diantara pengertian tabarruj adalah menampakkan ‘perhiasan wanita’ dengan membiarkan lehernya terbuka. Nah, “dengan jilbab seorang wanitaakan terhindar dari dosa tabarruj ini”89.
Maha suci Allah yang telah “mewajibkan wanita untuk menutup auratnya”90. “Hingga harga diri wanita tetap terjaga dan tetap mulia”91. “Hingga wanita-wanita muslimah tidak merosot nilainya”92.
Keuntungan berjilbab* dari segi kesehatan adalah “agar rambut tidak mudah dikotori oleh debu yang berterbangan kian kemari”93. Sebab, “dengan banyaknya debu dirambut akan menyebabkan rambut mudah rontok dan berakibat kebotakkan”94.
“Disamping untuk ‘menjaga kulit agar tidak tersengat matahari”95. Sebab, “sengatan matahari itu dapat mengakibatkan penyakit-penyakit kulit tertentu”96. Seperti “kekurangan tingkat kelembaban kulit, hingga kulit jadi kering”97. Juga “dapat mengakibatkan kanker kulit”98 atau “minimal akan mengakibatkan munculnya bintik-bintik hitam pada permukaan kuli diusia tertentu”99.
Bila dipandang dari sisi lain berjilbab adalah “agar tidak dijadikan obyek syahwat para lelaki”100.
Marhalah Keenam
Ketika saya pertama kali mengenakan jilbab, seorang teman bertanya, “ Eh…kamu udah minta izin belum sama sekolah?”
Saya jelaskan kepadanya, “ bahwa untuk taat pada Allah tidak perlu minta izin kepada manusia“101. Amat sombong sekali manusia-manusia yang merasa memiliki hak untuk memberi izin seseorang untuk taat kepada Khaliq.
Aku tengah mencoba membenahi diri. Mejeng-mejeng terus mau jadi apaan sih?? “Pamer aurat ntar kualat diakhirat, mending dikit-dikit berbenah!”102. Apa kamu Cuma sekedar ikut-ikutan kali? “Saya nggak ikut-ikutan!!”103. Saya yakin ini suatu kebenaran! Saya mengakui bahwa Allah yang membolak-balikkan hati seseorang, namun saya senantiasa bermohon pada-Nya agar saya istiqomah di jalan-Nya. Saya ingi berada di jalan haq ini sampai maut menejput diri.
Nggak gerah neng??
“Neraka lebih gerah bung, bahkan sangat panaaassss sekaliiiii,,,” 104.
“Ee…dibilangin nggak percaya !!!”
“Siapa yang mau percaya dengan kejahiliyyahan sih“105. “Ekstrim amat!! “Apa? Ekstrim??? Apanya yang ekstrim?? Es krim kale….”106.
Kayaknya dia orang yang paling tahu tentang agama! “Saya tidak mengatakan bahwa saya adalah orang paling tahu tentang agama. Saya beru belajar tentang dien ini, tapi saya ingin melaksanakan semampu saya setiap ajaran Islam yang saya pahami ini “ 107.
Marhalah Ketujuh
Keuntungan lain “ adalah agar tangan-tangan usil tidak mudah mampir “ 108. Nah kalau kita pakai baju yang ketat, mini, tembus pandang, jelas dong mengundang lelaki untuk berlaku iseng?!!
Ket: untuk yang ke 93 dan 94 merupakan alasan mengapa pakai kerudung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar