
Muslimah yang cerdas tidak dapat diukur dengan nilai-nilai pelajaran yang diperolah di sekolah atau IPK di atas rata-rata. Namun, kecerdasannya ini nampak, ketika seorang Muslimah dapat menggunakan akalnya dalam ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga ia akan tampil ditengah-tengah masyarakat dengan kepribadian yang khas, yang berbeda dengan perempuan-perempuan yang kebanyakan hanya mengikuti hawa nafsunya, dibalut dengan kata “Modern”, atau mengikuti gaya hidup Barat yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam.
Muslimah yang cerdas akan senantiasa mencari jati dirinya yang sebenarnya. Ia tidak akan mudah terpengaruh dengan pembahasan yang dangkal. Ia tidak disibukkan dengan membahas tentang penampilan yang tepat, tata rambut yang benar, busana yang lagi ngetrend, atau membuang-buang waktu dan energinya untuk berupaya memenuhi harapan-harapan yang tidak wajar sebagaimana yang dipandang oleh masyarakat Barat sebagai “Wanita Cantik”. Seorang muslimah akan berupaya menggunakan akalnya agar segala aktivitasnya bernilai ibadah untuk menggumpulkan pahala sebagai modal di kehidupannya di akhirat kelak.
Kendati pun, tidak dapat dipungkiri, bahwa kuatnya arus mengenai menjadi wanita cantik, senantiasa diekspos dimedia-media, sehingga menjadi wanita cantik seakan-akan menjadi idaman untuk semua perempuan termasuk kaum Muslimah. Kenyataan menunjukkan bahwa pandangan yang dominan di tengah-tengah masyarakat dunia saat ini tentang apa yang dimaksud dengan “Wanita Cantik” adalah pandangan yang bersumber dari masyarakat kapitalis Barat. Yang dimaksud dengan “Wanita Cantik” menurut mereka adalah perempuan yang tinggi, ramping, dan berkulit putih. Selain itu, pandangan umum masyarakat dunia tentang kepribadian perempuan yang sempurna lebih banyak diukur dari sisi penampilan dan cara berbusana ala perempuan Barat.
Konsep mengenai “Wanita Cantik” menjadi hal yang sangat penting bagi kalangan perempuan pada umumnya untuk saat ini, sehingga untuk memiliki keperibadian Islam tidak lagi dijadikan hal yang utama dalam pembentukan jati dirinya. Padahal dalam tuntunan Islam, mengenai fisik tidaklah menentukan derajat seseorang. Sesuai dalam hadits ini:
Dalam khutbah terakhirnya, Nabi mengulang pesan itu : “Wahai, sekalian manusia, ingatlah bahwa Tuhan kamu satu dan bapak kamu satu. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ‘Ajam (non-Arab) dan orang ‘Ajam atas orang Arab. Juga tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang hitam dan bagi orang hitam atas orang merah, kecuali karena takwa” (HR. Ahmad dari Abu Nadlrah)
Itulah sebabnya, Bilal budak hitam lebih layak masuk sorga daripada Abu Jahal dan Abu Lahab yang gagah tinggi besar. Demikian pula Amr Ibnul Jamuh yang kakinya pincang, atau Abdullah bin Mas’ud yang kakinya kecil. Keduanya bagian dari sahabat terbaik Nabi.
Berbicara tentang soal pesona, suatu ketika saat Nabi sedang duduk dengan salah seorang sahabatnya, ada seorang pemuda yang gagah melintas di depan mereka. Nabi bertanya kepada sahabatnya, “Bagaiamana pendapatmu tentang orang itu? “O Rasulullah! Dia termasuk golongan yang mulia. Orang seperti dia kalau meminang siapa saja pasti diterima, kalau minta tolong pasti ditolong,” jawab sahabat. Nabi diam saja. Tak lama kemudian, seorang hitam dan tidak gagah melintas di depan mereka. “Bagaimana kalau orang ini?” Tanya Nabi. Sahabat cepat menjawab, “Wah, kalau ini sudah kelihatan dari golongan miskin. Orang seperti dia kalau meminang tidak akan ada yang mau menerimanya. Kalau minta bantuan, sulit akan mendapat bantuan. Kalau berbicara tidak ada orang yang mau mendengar.”
Mendengar komentar sahabatnya tadi, Nabi berkata, “Orang kedua ini lebih baik dari seisi bumi, dibandingkan dengan orang yang pertama tadi.” Artinya, jangan tertipu oleh penampilan fisik. Seperti kata pepatah: Beauty is not in the face, beauty is a light in the heart (kecantikan bukan pada wajah, melainkan cahaya dari dalam hati)
Rasulullah Saw. menegaskan, “Allah tidak melihat kepada bentukmu dan penampilanmu, tapi Allah melihat kepada amal dan hatimu” (HR. Muslim)
Sudah sangat jelas bahwa aktivitas dengan hanya menyibukkan diri dengan penampilan seperti yang di iklan-iklan adalah aktivitas yang sia-sia, karena Allah hanya menilai hamba-Nya dengan ketaatan kepada-Nya. Demikian pula, mengenai popularitas, jabatan, maupun harta, tidak juga sebagai penentu tingkat derajat seseorang dihadapan Allah, akan tetapi tetap dari amal ibadah yang dilakukannya.
Dari Abu Umamah, dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya wali yang paling menarikku adalah seorang mukmin yang ringan hadznya yang mempunyai bagian yang besar dalam shalatnya. Ia beribadah kepada Rabnya dengan ikhlas dan sesuai sunah. Ia taat kepada Allah pada saat menyendiri, tidak ada yang melihatnya. Ia menyembunyikan (ibadahnya) terhadap manusia. Ia tidak pernah ditunjuk-tunjuk (dimarahi) oleh jari tangan orang lain. Rizkinya tidak terlalu banyak, tapi ia sabar atas rizkinya. Kemudian beliau mengibaskan tangannya dan bersabda, “Kematian orang itu cepat sekali, sedikit orang yang menangisinya dan sedikit peninggalanya.” (HR. at-Tarmidzi. Ia menghasankkannya)
Mungkin kita pernah melihat ada seseorang yang tanpak biasa saja, namun kita tidak mengetahui sebarapa besarnya dia senantiasa beribadah kepada Allah, kebanyakan waktunya habis untuk beribadah seperti shalat, mengaji, dzikir, dakwa, sedekah, mengkaji Islam dan amalan-amalan lainnya. Sekali lagi, kita tidak boleh tertipu hanya dengan penampilan fisik, apalagi jika kita bagian dari Muslimah yang hanya ingin mendapat perhatian dari orang-orang sehingga cara yang termudah dengan memperindah diri dengan hanya sebatas penampilan. Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang telah Rasulullah ajarkan kepada kita karena Rasulullah pun, menilai ummatnya dengan kualitas keimanan dan pengorbanannya dijalan Allah Swt. Hadits Riwayat Muslim dari Anas bin Malik: Sesungguhnya Nabi Saw. tidak pernah menemui wanita selain istri-istrinya kecuali kepada Ummu Sulaim. Nabi Saw. suka menemuinya. Kemudian ada yang berkomentar tentang hal itu. Maka Nabi Saw. bersabda, “Aku menyayanginya karena saudaranya telah terbunuh pada suatu peperangan bersamaku.”
Pada saat pemikiran umat Islam dikepung atau dicekoki dengan pemikirat Barat, maka mengakibatkan umat senantiasa menilai segala sesuatu dari sudut pandang Barat termasuk dalam pembentukan diri sebagai seorang Muslimah. Sehingga selayaknya umat Islam khususnya Muslimah kembali menjadikan Al-Quran dan Hadits sebagai patokan dalam pembentukan dirinya, yang tidak terjerumus oleh tipu muslihat dari syaitan yang berwujud manusia dengan memberikan pandangan-pandangan yang keliru dalam kehidupannya di dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar