
Kulitnya hitam, badannya tinggi jangkung, kurus kerempeng, berambut lebat dan berjambang tipis--itulah yang dilukiskan oleh ahli-ahli riwayat. Dia adalah orang yang deberi gelar oleh Umar bin Khattab sebagai "pemimpin kita", tetapi manakala pujian itu datang, ia akan menundukkan kepala dan memejamkan mata, air matanya pun akan mengalir deras membasahi pipinya, sambil berkata: "Saya ini hanyalah seorang budak Habsyi..., dan kemarin saya seorang budak belian!" Dialah Bilal bin Rabah, muaddzin Rasulullah yang telah mengguncang berhala berhala Quraisy yang dianggap sebagai tuhan kala itu. Namanya harum dan dikenal sepanjang masa oleh generasi gernerasi sesudahnya. tak ada satupun dari umat Islam yang tak mengenal Bilal bi Rabah. Hitamnya warna kulit, rendahnya kasta, dan kehinaan dirinya di antara manusia manusia selama menjadi budak belian, sekalli kali tak menjadi penghalang baginya untuk menempati kedudukan tinggi di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan deretan para sahabat.
Pada suatu hari, Bilal bin Rabah melihat Nur Illahi yang membawanya menemui Rasulullah untuk segera berbai'at kepadanya. Tak lama setelah itu, berita keislaman Bilal tersebar diseluruh masyrakat tempat dimana ia menjadi budak. Di antara tuan-tuannya dari Bai Jumah, Umayah bin Khalaf, yang saat itu menjadi tuannya Bilal, merasa tercoreng wajahnya karena keislaman Bilal. Ia menganggap keislaman seorang hamba sahayanya sebagai hinaan dan amat menjatuhkan kehormatannya di mata kabilah lain. Saat itu, orang orang kafir mulai berpikir bagaimana menghentikan keislamanya. Sebab dengan Islamnya Bilal, berarti akan memberikan peluang bagi budak budak lain untuk mengikutinya, menjadi pegikut Muhammad saw.
Seolah olah Allah telah menjadikan Bilal sebagai tamsil bagi umat manusia, bahwa hitamnya warna kulit dan perbudakan,, sama sekali tak menjadi penghalang untuk mencapai kebesaran jiwa, dengan syarat ia benar benar beriman dan taat kepada Allah serta memegang teguh ajaran-Nya. Siksaan demi siksaan mulai ia rasakan. Dalam keadaan telanjang, ia dibaringkann di atas bara, dengan tujuan agar meninggalkan agama barunya dan kembali ke agama nenek moyangnya, penyembah berhala. Tetapi ia menolak.
Suatu ketika, di siang hari yang sangat panas, saat padang pasir berubah warna bagai neraka Jahannam, merkea (orang kafir) membawa Bilal keluar dari rumahnya dan melemarkannya ke padang pasir itu dalam keadaan telanjang. Kemudian beberapa orang lelaki kafir mengangkat batu besar panas laksana bara, dan menjatukannya ke atas tubuh dan dada Bilal yang sudah mereka ikat dengan tali. Siksaan kejam lagi biadab ini mereka ulangi terus setiap hari, sampai sampai mereka sendiri yang merasa bosan menyiksanya. Algojo algojo kafir itu berjanji kan melepaskan Bilal bila saja ia mau menyebut nama tuhan tuhan mereka secara baik baik walau hanya dengan sepatah katapun, tak usah lebih, yang akan menjaga nama baik kabilah mereka di mata umum, sehingga tak lagi menjadi buah pembicaraan bagi orang orang Quraisy.
Tetapi apa yang dilakukan Bilal, si budak Habsyi ini? Ternyata, tak sepatah katapun yang diajarkan padanya diikuti. Bilal tak mau mengucapkan apa yang diucapkan mereka, sebab hatinya kini telah dipenuhi dengan cahaya keimanan (Islam). Yang diucapkannya justeru sebuah kata yang menyebabkna para penyiksanya semakin berang. "Ahad...! Ahad...! Allah Yang Maha Tunggal...! Allah Yang Maha Tunggal...," ituah senandung abadinya saat siksaan yang diterimanya kian menjadi-jadi. "Sebutlah Lata dan 'Uzza!" Tetapi jawaban Bilal tidak pernah berubah dari jawabannya semula, "Ahad...! Ahad...! "Sebutlah apa yang kami ajarkan kepadamu...! teriak orang orang kafir itu. Tetapi dengan ejekan pahit dan penghinaan yang menakjubkan BIlal berkata, "Lidahku tak bisa mengucapkannya...!'
Karena tak bisa lagi menahan amarahnya, Umayah membentak sambil berseru, "Kesialan apa yang menimpa kami desebabkanmu, hai budak durhaka?! Demi tuhan Lata dan 'Uzza, akan kujadikan kau sebagai contoh bagi bangsa budak dan majikan majikan mereka!" Dengan tenang dan penuh keyakinan terhadap pertolongan Allah, Bilal tetap menjawab, " Ahad...! Ahad...!"
Orang orang yang diserahi tugas untuk menyiksa BIlal berura-pura menaruh iba kepadanya, dan mebujuk kembali dengan mengajukan penawaran kepada Umayah. "Biarkanlah dia wahai Umayah! Demi Lata dan 'Uzza! mulai saat ini ia takkan disiksa lagi! Bilal ini anak buah kami, bukankah ibunya sahaya kami...? Nah, ia takkan rela bila dengan keislamannya itu kami menjadi ejekan dan cemoohan suku Quraisy...!"
Bilal membelalakkan matanya dan menantang para penipu licik itu, tetapi ketegangan itu menjadi kendur dengan tersenyumnya bagai cahaya yang keluar dari mulutnya. Dengan tenang Bilal berkata, "Ahad...! Ahad...!" Begitulah keteguhan hati Bilal. Ia akan tetap memegang janji setianya yang telah dibuat dengan Rasulullah. Ia takkan lari kebelakang walau hanya sejengkal. Ia sudah mempersiapkan segalanya demi menjaga tauhidnya.
Begitulah sehari hari Bilal. Sebelum bebas ia tetap mengalami siksaan yang maha dahsyat. Melihat keadaannya, Rasulullah hanya bisa mendoakan sebab tak bisa membebaskannya karena orang orang kafir itu selalu menjaga Bilal. Seperti siksaan siksaan sebelumnya. tubuh Bilal mereka tindih dengan batu daari pagi hingga petang hari. Mereka tegakkan badannya yang sudah terikat dengan tali. lalu orag orang kafir itu mnyuruh anak anak untuk mengaraknya keliling bukit bukit dan jalan jalan di kota Mekah, smentara Bilal tak pernah lepas lisannya mengucapkan senandung sucinya, "Ahad...! Ahad...!"
(Bersambung...)
forum diskusi:
http://www.facebook.com/topic.php?topic=15063&uid=118286581060
Tidak ada komentar:
Posting Komentar